ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun alpukat perlu diekstraksi untuk mengambil kandungan kimia di dalamnya, yaitu alkaloid, flavonoid, saponon, tanin dan terpenoid. Ekstrak yang dihasilkan perlu distandarisasi, salah satunya dengan penetapan kadar air. Kadar air dapat dipengaruhi oleh perbedaan metode pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode pengeringan terhadap kadar air ekstrak daun alpukat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental posttest only design. Daun alpukat dikeringkan dengan tiga metode pengeringan, yaitu sinar matahari, kering angin, dan oven suhu 40°C. Daun alpukat diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Ekstrak daun alpukat ditetapkan kadar airnya secara gravimetri. Kadar air ekstrak daun alpukat dibandingkan dengan persyaratan pada Farmakope Herbal Indonesia edisi II, yaitu tidak lebih dari 10% dan dianalisis menggunakan SPSS dengan uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji homogenitas Levene’s test dengan taraf kepercayaan 95%. Data terdistribusi normal dan homogen (p>0,05) dilakukan uji One Way Annova. Hasil penetapan kadar air ekstrak daun alpukat dengan metode pengeringan kering angin sebesar 9,14±0,23%, sinar matahari sebesar 8,07±0,07% dan oven suhu 40°C sebesar 5,92±0,19%. Hasil kadar air memenuhi persyaratan sesuai Farmakope Indonesia edisi II. Hasil analisis menggunakan SPSS menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada setiap metode pengeringan. Kesimpulan penelitian ini yaitu perbedaan metode pengeringan berpengaruh terhadap kadar air ekstrak daun alpukat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun binahong mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan polifenol. Daun binahong dapat menurunkan tekanan darah dan menurunkan kadar gula darah. Daun binahong memiliki banyak potensi, oleh karena itu perlu dilakukan standarisasi. Penetapan kadar air ekstrak etanol daun binahong perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas, keamanan dan mempertahankan konsistensi kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam simplisia maupun ekstrak. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air dalam ekstrak etanol daun binahong dengan menggunakan metode gravimetri. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental post-test only design. Pembuatan ekstrak etanol daun binahong dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, maserasi dilakukan selama 3x24 jam. Setelah dilakukan maserasi, ekstrak diuapkan menggunakan rotary evaporator, dilanjutkan penguapan menggunakan waterbath sampai ekstrak mengental. Ekstrak kental yang diperoleh, dilakukan penetapan kadar air ekstrak etanol daun binahong secara gravimetri. Hasil data yang diperoleh dibandingkan dengan standar yang ada dalam Farmakope Herbal Indonesia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pisang ambon mengandung karbohidrat, vitamin A, dan vitamin B6. Pisang ambon memiliki rasa dan aroma yang khas, tetapi mudah sekali rusak sehingga perlu diolah menjadi bahan lebih awet dan memiliki waktu simpan yang lebih lama. salah satu cara untuk mengawetkan pisang ambon adalah dibuat menjadi tepung pisang. Proses pembuatan tepung pisang ambon dipengaruhi oleh kadar air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air dari tepung pisang ambon. Penelitian ini menggunakan metode posttest only design. Buah pisang ambon diolah menjadi tepung pisang dengan pengeringan oven pada suhu 60oC kemudian diayak dengan mesh 80, dan serbuk yang diperoleh dilakukan pengujian kadar air. Hasil kadar air yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan SNI 01-3841-1995.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pisang merupakan jenis komoditi holtikultura dalam kelompok buah-buahan
yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia. Jenis
pisang yang memiliki berbagai manfaat yaitu pisang ambon. Pisang ambon dapat
diolah menjadi sediaan tepung sebagai bahan dasar makanan agar masa
penyimpanannya lebih lama. Kualitas tepung pisang ambon dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu kadar air. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui kadar air tepung pisang ambon pengeringan freeze drying dengan
metode gravimetri.
Metode penelitian ini menggunakan metode eksperimental post-test only
design. Uji kadar air dilakukan dengan mengeringkan tepung pisang ambon
menggunakan metode gravimetri. Pengeringan tepung pisang dilakukan pada
suhu 105°C menggunakan oven. Hasil pengeringan tepung pisang dihitung kadar
airnya, kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kayu secang memiliki kandungan brazilin yang berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan dapat dikembangkan menjadi suatu sediaan yaitu permen jelly. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pembuatan permen jelly dan mengamati hasil uji permen jelly.
Kayu secang yang ditambahkan dalam pembuatan permen jelly sebagi zat aktif. Permen jelly dibuat 2 formula dengan masing-masing 3 replikasi. FI tepung porang dengan gelatin dan FII tepung porang dengan karagenan. Permen jelly kayu secang dilakukan uji meliputi kadar air dan pH. Data hasil pengujian dideskripsikan.
Hasil uji kadar air dari permen jelly kayu secang belum memenuhi syarat SNI dalam pembuatan permen jelly yaitu kurang dari 20%. FI menghasilkan rata-rata 61,33% dan FII menghasilkan rata-rata 74,69%. Hasil uji pH permen jelly kayu secang memenuhi persyaratan rentang pH mukosa mulut, FI menghasilkan rata-rata 6,18% dan FII menghasilkan rata-rata 6,93.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun kersen memiliki manfaat sebagai antibakteri, antioksidan, antidiabetes dan antiinflamasi. Pengeringan simplisia daun kersen dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam simplisia. Perbedaan metode pengeringan simplisia dapat mempengaruhi kadar air simplisia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode pengeringan terhadap kadar air simplisia daun kersen. Metode yang digunakan pada penelitian ini, yaitu eksperimental Postest Only Design. Daun kersen dikeringkan menggunakan 2 metode, yaitu pengeringan sinar matahari dan oven kemudian dilakukan penetapan kadar air menggunakan metode gravimetri. Data kadar air yang diperoleh dibandingkan dengan parameter quality control pengeringan berdasarkan pedoman umum pascapanen tanaman obat kemudian pengujian dilanjutkan dengan uji Independet Sampel T test. Hasil rata-rata nilai kadar air simplisia daun kersen dengan metode pengeringan sinar matahari sebesar 8,07±0,08% dan oven sebesar 7,35±0,05%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar air dan setiap metode pengeringan. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan metode pengeringan dapat berpengaruh terhadap kadar air simplisia daun kersen.