ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung senyawa flavonoid hesperidin yang bersifat polar dan tahan terhadap pemanasan. Flavonoid seperti hesperidin memiliki gugus kromofor dan auksokrom sehingga dapat dideteksi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar hesperidin pada seduhan daun pepaya. Metode penelitian ini merupakan eksperimental posttest only design berupa penetapan kadar hesperidin pada seduhan daun pepaya dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Sampel yang digunakan berupa daun pepaya yang telah dirajang dan dikeringkan dengan metode kering angin. Seduhan dibuat dengan serbuk daun pepaya yang dihaluskan dengan ayakan mesh 60 dan dikemas dalam kantong teh sebanyak 2 gram. Daun pepaya diseduh menggunakan akuades sebanyak 100 mL pada suhu 70 0 C selama 5 menit. Standar hesperidin dibuat dalam seri konsentrasi 0,5; 2; 4; 6; 8 ppm dengan pelarut metanol. Pembacaan absorbansi dilakukan pada panjang gelombang 282,7 nm. Kadar hesperidin dihitung dengan memasukkan absorbansi sampel dalam persamaan regresi linear y= 0,0467x + 0,0157. Berdasarkan penelitian mengenai penetapan kadar hesperidin seduhan daun pepaya didapatkan hasil pengukuran panjang gelombang maksimum sebesar 282,7 nm. Kadar hesperidin dalam seduhan daun pepaya diperoleh sebesar 0,23±0,01% b/b
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah biji pepaya memiliki kandungan kimia berupa karpain dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan kimia tersebut bersifat sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat limbah biji pepaya sebagai sabun cuci piring dengan aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus. Metode penelitian menggunakan posttest only control group design. Biji pepaya diekstraksi dengan pelarut alkohol 96% secara maserasi selama 72 jam. Hasil ekstrak dibuat sabun cuci piring. Pengujian dilakukan dengan metode difusi cakram menggunakan 4 kelompok, 3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol yaitu sabun cuci piring ekstrak biji pepaya dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5% dan kontrol positif menggunakan sabun cuci piring cair (sunlight). Setiap perlakuan diinkubasi pada suhu 37 °C selama 24 jam. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk dan uji homogenitas menggunakan Lavene’s test. Data yang terdistribusi normal dan homogen, dilanjutkan uji One Way Anova dan dilakukan analisis Least Significant Difference. Data yang tidak terdistribusi normak dan tidak homogen diuji dengan Kruskal wallis dan dilanjutkan dengan Mann-Whitney.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Brewing temperature is a critical factor that can affect the content of chemical compounds in a material including papaya leaf herbal tea. This study aims to determine the effect of different brewing temperatures on the results of phytochemical screening and KLT profile analysis of papaya leaf herbal tea. Papaya leaf symplisia was air-dried for 3x24 hours then sieved with a 40 mesh sieve, then weighed as much as 2 grams and put in a tea bag. The papaya leaf herbal tea preparation was brewed using 100 ml of water with temperature variations of 50, 70 and 90°C, allowed to stand for 5 minutes, then continued with phytochemical screening and KLT analysis. The mobile phase used was ethyl acetate:acetone: formic acid: water (14:4:1:1), silica gel GF 254 stationary phase and quercetin standard comparator. The detector used UV 254 and 366. KLT analysis by calculating the Rf value on each spot. The results showed that different brewing temperatures affected the content of active compounds in papaya leaf herbal tea. Papaya leaf herbal tea brewed at 50C contains polyphenol compounds, flavonoids, tannins, alkaloids and saponins, brewing at 70C contains polyphenol compounds, flavonoids, tannins and saponins and at 90C contains polyphenol compounds, flavonoids and tannins. The results of KLT of papaya leaf herbal tea steeping have no difference in the number of spots with different brewing temperatures. KLT results with the UV 254 detector showed there were 6 spots with Rf values between 0.05 - 0.84. In the results of KLT with UV 366 detector there are 2 spots with Rf values between 0.31 - 0.84. The Rf value of the comparator is 0.94. This study concludes that the difference in brewing temperature of papaya leaf herbal tea affects the results of phytochemical screening, but does not affect the KLT profile. Keywords: steeping, herbal tea, papaya, screening, KLT
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi membutuhkan pengobatan yang tepat dan dilakukan secara terus menerus. Penggunaan obat antihipertensi jangka panjang dapat menyebabkan efek samping dan ketidakpatuhan yang tinggi. Oleh karena itu perlu adanya alternatif yaitu dengan mengonsumsi buah papaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian buah pepaya berdasarkan review artikel efektif sebagai antihipertensi. Jenis penelitian ini adalah review jurnal, metode yang digunakan pada peneltian ini adalah deskriptif kualitatif melalui kajian pustaka dengan teknik compare. Data diperoleh dengan diunduh melalui website antara lain: www.scholar.google.com, www.portalgaruda.com, www.pubmed.ncbi.nlm.nih.gov, dan www.cochranelibrary.com dan metode pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, jurnal yang digunakan adalah primer dan sekunder. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan porpusive sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Variasi konsentrasi NaOH berpengaruh terhadap pH dan tidak berpengaruh terhadap sifat fisik organoleptis warna dan bau daun Pepaya (Carica Papaya L.) .Konsentrasi NaOH dapat menghasilkan sediaan yang memenuhi syarat yaitu pada formula 1,2, dan 3. dengan konsentrasi NaOH 5%, 8,5%, 12%
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya (Carica papaya L.) memiliki kandungan senyawa kimia berupa metabolit sekunder alkaloid karpain yang dapat digunakan sebagai antioksidan. Penggunaan daun pepaya sebagai antioksidan dapat dibuat menjadi kosmetik berupa gel. Gel dipilih karena mengandung banyak air dan memiliki sifat pengantar obat yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai pH dan diameter sebar sediaan gel ekstrak daun pepaya dengan basis Na-CMC. Metode penelitian ini adalah post test only control design. Gel dibuat 2 formula yaitu F1 (tanpa pemberian ekstrak) dan F2 (dengan penambahan ekstrak). Penambahan ekstrak daun pepaya dilakukan untuk mengetahui perbedaan karakteristik sediaan gel sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan. Uji fisik yang dilakukan meliputi uji pH dan diameter sebar. Data hasil pengujian fisik gel dianalisis menggunakan program IBM SPSS Statistik 23 dengan taraf kepercayaan 95%. Uji homogenitas menggunakan uji Levene test dan uji normalitas menggunakan Shapiro Wilk, jika data terdistribusi normal dilanjutkan menggunakan uji Independent T-test jika data tidak terdistribusi normal menggunakan uji Mann Whitney.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai antibakteri penyebab jerawat. Daun pepaya dibuat sediaan gel dengan basis gel menggunakan HPMC (Hidroxy Propyl Methyl Cellulose) memiliki keunggulan seperti tidak mudah tumpah, lebih lama mengikat wangi, mudah dalam pemakaian, bersifat elastis, dan bisa dikreasikan bentuknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak daun pepaya terhadap uji pH dan diameter sebar sediaan gel berbasis HPMC. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan posstest only control group design. Formulasi yang dibuat dalam 2 formula, yaitu F1 formulasi gel tanpa penambahan ekstrak dan FII formulasi gel dengan penambahan ekstrak. Pengujian sediaan gel meliputi uji organoleptik, uji pH dan uji diameter sebar. Hasil uji pH dan diameter sebar dianalisis secara statistik menggunakan Independent T-test dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil Penelitian menunjukan sediaan gel F1 bertekstur kental, berwarna bening, tidak berbau dan F2 berekstur agak kental, berwarna coklat muda, berbau khas daun pepaya. Hasil uji pH pada F1 6,24± 0,05 dan F2 6,43± 0,07. Hasil uji dimeter sebar pada F1 5,80 ± 0,19 cm dan F2 6,13 ± 0,07 cm. Hasil penelitian memenuhi persyaratan nilai pH dan diameter sebar. Hasil menunjukan bahwa terdapat perbedaan signifikan penambahan ekstrak daun pepaya yang mempengaruhi hasil uji pH dan diameter sebar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Papaya leaves contain alkaloids which have antibacterial activity against the growth of Staphylococcus aureus, Propionibacterium acnes, and Staphylococcus epidermidis bacteria. Papaya leaf extract was developed as a traditional medicine in the form of cream preparations to make it more effective in its use. The purpose of this study was to determine the organoleptic physical and chemical characteristics of the papaya leaf ethanol extract cream.
This research was conducted using the post test only control design method. The cream is made using papaya leaf ethanol extract. The preparation of cream preparations uses two formulas, namely formula 1 without ethanol extract of papaya leaves and formula 2 with ethanol extract of papaya leaves. The cream results obtained were then subjected to organoleptic tests, homogeneity, pH, and diameter of the spread. The results of organoleptic data and homogeneity are described. The obtained pH and scatter diameter data were then statistically analyzed using SPSS 23.0. normality test using Shapiro Wilk and homogeneity test using Levene's Test. The results of normal and homogeneous data analysis will be followed by the Independent sample T-Test. Data that is not normally distributed will be carried out by the Mann Withney test.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, fenol dan titerpenoid. Penarikan senyawa metabolit sekunder dilakukan dengan cara fraksinasi. Fraksinasi dilakukan dengan pelarut berbeda kepolaran. Fraksi kloroform digunakan untuk menarik senyawa yang larut dalam pelarut non polar. Tujuan dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam fraksi kloroform ekstrak daun pepaya.
Penelitian ini merupakan penelitian posttest only design. Pembuatan fraksi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan melarutkan ekstrak daun pepaya dalam etanol dan air (1:9). Tambahkan pelarut kloroform, lakukan penggojokan kemudian diamkan hingga terpisah menjadi dua fase. Proses fraksinasi dilakukan hingga fraksi kloroform jernih. Fraksi kloroform yang didapat diuapkan dengan water bath, kemudian dilakukan skrining fitokimia.
Pengujian skrining fitokimia menggunakan uji tabung.Hasil penelitian skrining fitokimia menunjukkan fraksi kloroform ekstrak daun papaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Papaya is an herbal plant that is easily found and used by Indonesian people, especially in the leaves. Papaya leaves have benefits as anti-inflammatory, antidiabetic, anticancer, antimalarial and antibacterial. This study aims to determine the content of secondary metabolites contained in the ethyl acetate fraction of papaya leaf extract.
The research method used is a qualitative method in the form of phytochemical screening results from the ethyl acetate fraction of papaya leaf water extract. As much as 10 g of papaya leaf extract dissolved with 50 mL of distilled water, put in a separating funnel and added 50 mL of ethyl acetate, shaken and let stand until separated. Partitioning was carried out until the ethyl acetate phase was clear and then concentrated with a rotary evaporator to obtain the ethyl acetate fraction. The results of the ethyl acetate fraction were tested to identify the content of active metabolites by screening including the identification of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, terpenoids. The test results were then analyzed descriptively.