ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun kelor memiliki senyawa metabolit sekunder seperti tanin, flavonoid, alkaloid, saponin. Penarikan senyawa tersebut menggunakan ekstraksi secara maserasi dengan vasiasi konsentrasi pelarut etanol. Pengaruh konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi hasil nilai rendemen suatu esktrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai rendemen ekstrak daun kelor terhadap perbedaan konsentrasi pelarut. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimental post test only design. Serbuk daun kelor dimaserasi dengan variasi konsentrasi etanol yaitu 50%, 70%, dan 96% selama 3 x 24 jam. Filtrat yang diperoleh diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 70℃ hingga didapatkan ekstrak kental. Hasil nilai rendemen yang didapatkan dilakukan analisa data menggunakan uji Shapiro Wilk pada normalitas dan uji levene pada homogenitas. Data terdistribusi normal dan homogen maka digunakan uji One Way Anova jika terdapat perbedaan digunakan uji lanjutan Post Hoc LSD. Data tidak terdistribusi normal dan homogen maka digunakan uji Kruskal Wallis jika terdapat perbedaan dilakukan uji lanjutan Mann-Whitney.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun sirih memiliki banyak manfaat diantaranya sebagai antisariawan, antiseptik, dan menghilangkan bau badan. Nilai rendemen yang diperoleh menunjukan efektivitas suatu proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu maserasi (perendaman) terhadap nilai rendemen ekstrak etanol daun sirih.
Jenis penelitian ini menggunakan post test only design. Serbuk daun sirih dimaserasi dengan pelarut etanol 96% selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Filtrat yang telah diperoleh masing-masing dikeringkan dengan metode kering angin hingga diperoleh ekstrak kental. Hasil nilai rendemen yang diperoleh dilakukan analisis data menggunakan uji Shapiro-Wilk dan uji Levene untuk uji normalitas dan uji homgenitas. Uji lanjutan yang dilakukan adalah uji One Way Anova dilanjutkan dengan uji LSD untuk melihat perbedaan antar 3 kelompok.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rimpang kunyit memiliki berbagai senyawa kimia seperti polifenol, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, dan alkaloid, yang dapat diperoleh melalui proses ekstraksi. Perbedaan metode ekstraksi diketahui dapat mempengaruhi senyawa aktif yang diperoleh pada suatu sampel. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perbedaan metode ekstraksi terhadap skrining fitokimia ekstrak rimpang kunyit.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental post-test only design. Serbuk rimpang kunyit diekstraksi secara maserasi dan remaserasi selama 3x24 jam menggunakan pelarut etanol 70%. Hasil filtrat kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator dan ekstrak kental yang didapat kemudian dilakukan uji skrining fitokimia yang meliputi uji polifenol, flavonoid, saponin, tanin, terpenoid, dan alkaloid. Hasil data yang didapat kemudian disajikan dalam bentuk tabel yang terdiri dari pengujian, reagen dan keterangan hasil uji dan dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rimpang temu kunci merupakan tanaman yang banyak digunakan sebagai bumbu pada masakan. Rimpang temu kunci mengandung kandungan kimia flavonoid, tanin dan saponin. Kandungan kimia Rimpang temu kunci dapat diperoleh dengan cara ekstraksi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai rendemen, yaitu metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan metode ekstraksi terhadap nilai rendemen ekstrak rimpang temu kunci.
Jenis penelitian ini menggunakan eksperimental post-test only design. Serbuk simplisia rimpang temu kunci diekstraksi secara maserasi dan remaserasi selama 3x24 jam dengan pelarut etanol 96%. Hasil ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan menggunakan kering angin. Ekstrak kental yang didapatkan kemudian dihitung nilai rendemen. Rendemen yang diperoleh dianalisis dengan uji normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk dan uji homogenitas dengan uji Levene’s test. Jika data terdistribusi normal dan homogen maka dilanjutkan dengan uji Independent Sample T-test sedangkan, jika data tidak terdistribusi normal dan tidak homogen kemudian dilakukan dengan uji Mann Whitney.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun mengkudu memiliki salah satu senyawa antrakuinon yang dapat dihasilkan dari proses ekstraksi maserasi. Perbedaan pelarut mempengaruhi efektivitas pada proses ekstraksi yang ditunjukkan dengan perolehan nilai rendemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan pelarut ekstraksi terhadap nilai rendemen dari ekstrak daun mengkudu.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Posttest Only Design. Serbuk daun mengkudu di ekstraksi secara maserasi dengan 3 pelarut yaitu etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan. Filtrat hasil maserat diuapkan dengan kering angin. Ekstrak yang diperoleh dihitung rendemennya dan dianalisis menggunakan SPSS dengan taraf kepercayaan 95%. Uji normalitas data dilakukan menggunakan Shapiro Wilk dan uji homogenitas data menggunakan Levene. Data terdistribusi normal dan homogen (p>0,05), lalu dilakukan uji One Way Anova. Apabila hasil uji One Way Anova diperoleh nilai signifikansi p<0,05 dilanjutkan dengan uji Post hoc LSD. Jika data tidak terdistribusi normal dan tidak homogen (p<0,05), kemudian dilakukan uji Kruskal Wallis. Apabila hasil uji Kruskal Wallis diperoleh nilai signifikansi p<0,05 dilanjutkan dengan uji Mann Whitney.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Metode ekstraksi secara maserasi dan infundasi dapat mempengaruhi penarikan senyawa pada suatu tanaman. Identifikasi kandungan senyawa dari suatu tanaman dapat dilakukan melalui skrining fitokimia. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kandungan senyawa hasil penarikan dari proses ekstraksi kayu secang menggunakan metode maserasi dan infundasi dengan pelarut air. Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kualitatif berupa skrining fitokimia hasil ekstraksi kayu secang dengan metode maserasi dan infundasi menggunakan pelarut air. Hasil ekstraksi berupa filtrat kemudian dilakukan uji identifikasi kandungan senyawa secara skrining meliputi identifikasi flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin, dan tanin. Hasil data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kemudian dilakukan kajian literatur dari penelitian terdahulu. Hasil yang didapatkan pada pengujian skrining fitokimia pada ekstrak maserat dan infusa menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil skrining fitokimia maserat menunjukkan ekstrak kayu secang positif mengandung flavonoid dan triterpenoid. Hasil skrining fitokimia infusa ekstrak kayu secang positif mengandung flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan saponin. Penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan metode ekstraksi dapat mempengaruhi hasil skrining fitokimia ekstrak kayu secang.