ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Self-medication is self-administered treatment without a doctor's prescription. Self-medication is generally undertaken based on personal experience, family advice, or the influence of advertising and media promotions. The results of this study indicate a strong correlation between information and digital resources and self-medication decisions. Social media is one of the media used as an information source. The purpose of this study was to determine the influence of social media on self-medication behavior in the Mayang Sehat Pharmacy, Sleman, Yogyakarta. This study used a cross-sectional, descriptive-analytic observational method with a sample of 86 respondents who met the inclusion criteria. The data obtained in this study were primary data obtained directly from the respondents. Data analysis used Chi-square, based on scoring data obtained from questionnaires on social media exposure and self-medication behavior. The results were then analyzed to determine the influence of social media on self-medication behavior. The results showed a high level of social media exposure for 22 (25.58%), moderate for 30 (34.88%), and low for 34 (39.54%). The results of self-medication behavior were categorized as good by 61 (70,93%) respondents and categorized as bad by 25 (29,07%). The conclusion of this study is that there is an influence of social media exposure on self-medication behavior of the community at the Mayang Sehat Pharmacy with a p-value of 0.045. Keywords: Self-medication, Social Media, Behavior
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2021 persentase penduduk Indonesia yang melakukan swamedikasi persentasenya mencapai 84,23%. Swamedikasi bukan pengobatan yang sepenuhnya aman, sehingga diperlukan pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya untuk memperoleh perilaku yang benar dalam melakukan swamedikasi obat analgetika agar terhindar dari resiko yang merugikan, karena pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi yang sangat penting dalam mempengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi obat analgetika di Desa Genengan Klaten. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pendekatan Cross-sectional yang melibatkan responden penelitian sebanyak 95 orang yang diambil dengan metode purposive sampling. Data diambil menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis hubungan antar variabel dengan korelasi Spearman menggunakan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan 42,11% responden memiliki tingkat pengetahuan baik, 51,8% memiliki tingkat pengetahuan cukup, 6,32% memiliki tingkat pengetahuan kurang dan untuk perilaku saat melakukan swamedikasi 85,26% memiliki perilaku tinggi terhadap swamedikasi obat antinyeri, 11,58% memiliki perilaku sedang, dan 3,16% memiliki perilaku rendah. Hasil uji korelasi antara pengetahuan dan perilaku menunjukkan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,050 (p>0,050) yang artinya tidak ada hubungan signifikan yang terjadi antara tingkat pengetahuan dengan perilaku swamedikası obat analgetik pada masyarakat Desa Genengan Klaten.